MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

                                               MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

 LATAR BELAKANG

               Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai-nilai, norma,adat kebudayaan dari setiap masalah yang dihadapi manusia pada kehidupan sehari-hari. Adanya kesamaan di harapkan agar interelasi antara intelektuil kita lebih sering memberikan efek positif bagi pembangunan negara dan perbaikan serta improvisasi khususnya pendidikan.
Diharapkan dengan memiliki suatu bekal yang sama diharapkan agar para akademis dapat lebih lancar dalam berkomunikasi. Kelancaran berkomunikasi ini selanjutnya akan menghasilkan pula pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang yang di tangani oleh para profesional sesuai dengan keahliannya. Begitu pula mahasiswa diharapkan akan memiliki latar belakang pengetahuan yang luas tentang kebudayaan Indonesia pada umumnya dan  minat mendalami tentang kebudayaaan itu sendiri, dengan demikian mahasiswa di harapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.
                Latar belakang diberikanya mata kuliah IBD, selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan d pergururan tinggi, dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana.

TUJUAN 

               Tujuan dari  penulisan ini ialah:
- Mengenali dan memahami tentang diri sendiri dan orang lain yang sebelumnya dikenal luarnya saja
- Memahami definisi dari budaya diri sendiri maupun orang lain yang beragam
- Tanggap dalam hasil budaya manusia secara lebih mendalam terhadap pemikiran, perasaan, dan perilaku manusia yang sudah di ciptakan-NYA
- Sebagai bekal penting untuk menjajaki lingkungan hidup bermasyarakat yang beragam
- Memiliki penglihatan atas pemikiran yang jelas dan mendasar serta menjaga rasa saling toleransi antar budaya masing - masing.
- Turut mengembangkan budaya bangsa yang sudah turun - temurun dari nenek moyang dan melestarikannya supaya nilai - nilai tersebut tidak hilang.
 PENDAHULUAN

                Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula hubungan dan interaksi yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dan kelompok manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan seimbang dan harmonis. Selain itu manusia juga diciptakan dengan sesempurna penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki. Hal ini difirmankan dalam surat At-Tin: 4

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

                Pada potongan ayat tersebut Allah berfirman bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik dibanding makhluk-makhluk yang Ia ciptakan berupa binatang, malaikat, dan jin dan manusia adalah bentuk yang paling sempurna. Kepada manusia diberikan-Nya akal pikiran dan kepintaran dalam menyerap ilmu pengetahuan sehingga dapat berkreasi dan sanggup berinovasi menciptakan penemuan-penemuan untuk menguasai alam dan binatang.

                Manusia juga bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal pada suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan asas ketuhanan. Karena dengan ilmu  tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan kewajiban, hal-hal yang baik dengan yang buruk, jahat dan baik. Sehingga nilai dan norma-norma dalam lingkungan akan terjalin seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik hasil dari pendidikan yakni kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dapat diimplementasikan di lingkungan masyarakat.

               Pendidikan sebagai manusia sebagai manusia seutuhnya. Manusia merupakan makhluk yang berakal budi lebih dari sekadar binatang yang hanya memiliki insting, serta berpikir secara rasional yang diterima akal sehat manusia. Manusia memiliki akal pikiran yang berfungsi mengendalikan diri dari naluri hewani. Masyarakat yang berpendidikan adalah masyarakat yang berbudaya. Dalam berbudaya manusia memiliki ketertarikan akan keindahan. Secara sederhana, kesenian adalah bentuk kebudayaan yang bisa dilihat dengan kasat mata. Norma, etika, dan nilai sosial adalah kebudayaan yang menjadi spirit di masyarakat.

                Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan , lingkungan dan manusia berbudaya dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.
               
               Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia juga sesuai dengan program pendidikan di Perguruan Tinggi dalam rangka menyempurkan pembentukan sarjana.
Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas:
1. Kemampuan akademis :  kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sitematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternative pemecahannya
2. Kemampuan professional :  kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
3. Kemampuan personal :  kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
Dengan seperangkat kemampuan yang dimilikinya lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadai sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang ditekuninya serta mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat
Indonesia dan umat manusia pada umumnya.

PEMBAHASAN

HAKEKAT MANUSIA DAN BUDAYA
A. Pengertian Manusia

                Istilah manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang artinya berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Bisa juga didefinisikan bahwa manusia adalah sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.

                Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan genetika/ tradisi, lingkungan geografik/ fisik/ sosial, maupun sejarahnya. Seperti seorang bayi lahir, ia merasakan ada perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh karena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sanalah timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense), untuk membedakan (sense of discrimination), dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan.Oleh karena itu lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap manusia itu sendiri.

Siklus Hubungan Manusia

                Siklus Hubungan manusia menggambarkan bahwa antara lingkungan dan manusia maupun sebaliknya merupakan hal yang tidak terpisahkan sebagai suatu sistem, yang dapat uraikan mejadi:
- Lingkungan alam befungsi sebagai sumber daya alam
- Lingkungan manusia berfungsi sebagai sumber daya manusia
- Lingkungan buatan berfungsi sebagai sumber daya buatan(campuran SDA dan SDM)

B. Pengertian Budaya

                Kata budaya merupakan bentuk majemuk dari kata budidaya yang artinya cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta "budhayah" yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dalam Bahasa Belanda budaya atau kebudayaan adalah kata "culturur". Dalam bahasa Inggris disebut "culture". Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata "colera". Colera yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan . Kemudian pengertian ini berkembang luas menjadi arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah lingkungan alam.

                Definisi budaya dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli antropologi merumuskan definisi budaya sebagai berikut:

                Menurut E.B. Taylor: 1871 berpendapat bahwa budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

                Menurut Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.

                Menurut Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah: Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia

                Menurut Koentjaraningrat: 1979 yang mengatikan budaya dengan: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

                Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.Dari penjelasan tersebut diatas jelas di sebutakan bahwa terdapat hubungan yang erat serta kesailng ketergantungan antara pendidikan dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui proses belajar yang merupakan kegiatan inti dalam dunia pendidikan.
Terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu :
1. Wujud pikiran yang berupa gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam benak pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat lingkungan kebudayaan tersebut,
2. Aktifitas tingkah laku pola manusia dalam bermasyarakat. Sistem sosial terdiri dari aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi satu sama lain, bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat istiadat setempat. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret,
3. Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik yang bisa di lihat kasat mata dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat serta lingkungan. 

BUDAYA SEBAGAI SISTEM GAGASAN

                Budaya sebagai sistem gagasan yang bersifat abstrak, tak dapat diraba atau di lihat, karena berada di dalam alam pikiran atau perkataan seseorang. Terkecuali bila gagasan itu berupa tulisan yang dituliskan dalam undang-undang , buku atau kitap. Budaya sebagai sistem gagasan telah menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku sesuai nilai, norma yang berlaku. Seperti  yang dikatakan Kluckhohn dan Kelly bahwa “Budaya berupa rancangan hidup” maka budaya terdahulu itu merupakan gagasan prima yang kita warisi melalui proses belajar dan menjadi sikap prilaku manusia berikutnya yang kita sebut sebagai nilai budaya.

                Jadi, nilai budaya adalah “gagasan” yang menjadi sumber sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial budaya. Nilai budaya dapat kita lihat, kita rasakan dalam sistem kemasyarakatan atau sistem kekerabatan yang diwujudkan dalam bentuk adat istiadat. Hal ini akan lebih nyata kita lihat dalam hubungan antara manusia sebagai individu lainnya maupun dengan kelompok dan lingkungannya.

PERWUJUDAN KEBUDAYAAN

                Menurut JJ. Hogman dalam bukunya “The World of Man” budaya terbagi dalam tiga wujud yaitu:  ideas, activities, dan artifacts. Sedangkan Koencaraningrat dalam buku “Pengantar Antropologi” menggolongkan wujud budaya menjadi:

a. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
b. Sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
c. Sebagai benda-benda hasil karya manusia

                Berdasarkan penggolongan wujud budaya di atas kita dapat mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: Budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret.
Budaya yang Bersifat Abstrak.

                Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi kesepakatan.

Budaya yang Bersifat konkret
                Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi.

a. Perilaku
Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya.
b. Bahasa

Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan telinga (auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dalam memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan ada.
c. Materi

Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi.
Unsur-unsur materi dalam budaya dapat diklasifikasikan dari yang kecil hingga ke yang besar adalah sebagai berikut:

1. Items, adalah unsur yang paling kecil dalam budaya.
2. Trait, merupakan gabungan dari beberapa unsur terkecil
3. Kompleks budaya, gabungan dari beberapa items dan trait
4. Aktivitas budaya, merupakan gabungan dari beberapa kompleks budaya.

                Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan unsur-unsur budaya menyeluruh (culture universal). Terjadinya unsur-unsur budaya tersebut dapat melalui discovery (penemuan atau usaha yang disengaja untuk menemukan hal-hal baru).


(SUBSTANSI) UTAMA BUDAYA
Substansi utama budaya adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos kebudayaan. Tiga unsur yang terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup.

1. Sistem Pengetahuan
Para ahli menyadari bahwa masing-masing suku bangsa di dunia memiliki sistem pengetahuan tentang:

-Alam sekitar
-Alam flora dan fauna
-Zat-zat
-Manusia
Sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia
Ruang dan waktu.
Unsur-usur dalam pengetahuan inilah yang sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan di seluruh dunia.

2. Nilai
                Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menentukan sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan karsa manusia. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama). Prof. Dr. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga bagian yaitu:
- Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna bagi manusia.
- Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas
- Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi rohani manusia.

3. Pandangan Hidup

                Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

                Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa manusia sebagai makhluk yang paling sempurna bila dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengelola bumi. Karena manusia diciptakan untuk menjadi khalifah/Pemimpin, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah: 30

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

                Oleh karena itu manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kekhalifahannya disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki. Masalah moral adalah yang terpenting, karena sebagaimana Syauqi Bey katakan:

                Akhlak dalam syair di atas menjadi penyebab punahnya suatu bangsa, dikarenakan jika akhlak suatu bangsa sudah terabaikan, maka peradaban dan budaya bangsa tersebut akan hancur dengan sendirinya. Oleh karena itu untuk menjadi manusia yang berbudaya, harus memiliki ilmu pengetahuan, tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta akhlak yang tinggi (tata nilai budaya) sebagai suatu kesinambungan yang saling bersinergi, sebagaimana dilukiskan dalam bagan berikut:

                Hommes mengemukakan bahwa, informasi IPTEK yang bersumber dari sesuatu masyarakat lain tak dapat lepas dari landasan budaya masyarakat yang membentuk informasi tersebut. Karenanya di tiap informasi IPTEK selalu terkandung isyarat-isyarat budaya masyarakat asalnya. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa, karena perbedaan-perbedaan tata nilai budaya dari masyarakat pengguna dan masyarakat asal teknologinya, isyarat-isyarat tersebut dapat diartikan lain oleh masyarakat penerimanya.

                Disinilah peran manusia sebagai makhluk yang diberi kelebihan dalam segala hal, untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas yang disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Sehingga dengan alam tersebut manusia dapat membentuk suatu kebudayaan yang bermartabat dan bernilai tinggi. Namun perlu digarisbawahi bahwa setiap kebudayaan akan bernilai tatkala manusia sebagai masyarakat mampu melaksanakan norma-norma yang ada sesuai dengan tata aturan agama.

SUMBER

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://www.anneahira.com/ilmu/ilmu-budaya-dasar.htm
http://anovianto.wordpress.com/2010/02/23/makalah-ilmu-budaya-dasar/