MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
LATAR BELAKANG
Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai-nilai, norma,adat kebudayaan dari setiap masalah yang dihadapi manusia pada kehidupan sehari-hari. Adanya kesamaan di harapkan agar interelasi antara intelektuil kita lebih sering memberikan efek positif bagi pembangunan negara dan perbaikan serta improvisasi khususnya pendidikan.
Diharapkan dengan memiliki suatu bekal yang sama diharapkan agar para akademis dapat lebih lancar dalam berkomunikasi. Kelancaran berkomunikasi ini selanjutnya akan menghasilkan pula pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang yang di tangani oleh para profesional sesuai dengan keahliannya. Begitu pula mahasiswa diharapkan akan memiliki latar belakang pengetahuan yang luas tentang kebudayaan Indonesia pada umumnya dan minat mendalami tentang kebudayaaan itu sendiri, dengan demikian mahasiswa di harapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.
Latar belakang diberikanya mata kuliah IBD, selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan d pergururan tinggi, dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana.
TUJUAN
Tujuan dari penulisan ini ialah:
- Mengenali dan memahami tentang diri sendiri dan orang lain yang sebelumnya dikenal luarnya saja
- Memahami definisi dari budaya diri sendiri maupun orang lain yang beragam
- Tanggap dalam hasil budaya manusia secara lebih mendalam terhadap pemikiran, perasaan, dan perilaku manusia yang sudah di ciptakan-NYA
- Sebagai bekal penting untuk menjajaki lingkungan hidup bermasyarakat yang beragam
- Memiliki penglihatan atas pemikiran yang jelas dan mendasar serta menjaga rasa saling toleransi antar budaya masing - masing.
- Turut mengembangkan budaya bangsa yang sudah turun - temurun dari nenek moyang dan melestarikannya supaya nilai - nilai tersebut tidak hilang.
LATAR BELAKANG
Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai-nilai, norma,adat kebudayaan dari setiap masalah yang dihadapi manusia pada kehidupan sehari-hari. Adanya kesamaan di harapkan agar interelasi antara intelektuil kita lebih sering memberikan efek positif bagi pembangunan negara dan perbaikan serta improvisasi khususnya pendidikan.
Diharapkan dengan memiliki suatu bekal yang sama diharapkan agar para akademis dapat lebih lancar dalam berkomunikasi. Kelancaran berkomunikasi ini selanjutnya akan menghasilkan pula pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang yang di tangani oleh para profesional sesuai dengan keahliannya. Begitu pula mahasiswa diharapkan akan memiliki latar belakang pengetahuan yang luas tentang kebudayaan Indonesia pada umumnya dan minat mendalami tentang kebudayaaan itu sendiri, dengan demikian mahasiswa di harapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.
Latar belakang diberikanya mata kuliah IBD, selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan d pergururan tinggi, dalam rangka menyempurnakan pembentukan sarjana.
TUJUAN
Tujuan dari penulisan ini ialah:
- Mengenali dan memahami tentang diri sendiri dan orang lain yang sebelumnya dikenal luarnya saja
- Memahami definisi dari budaya diri sendiri maupun orang lain yang beragam
- Tanggap dalam hasil budaya manusia secara lebih mendalam terhadap pemikiran, perasaan, dan perilaku manusia yang sudah di ciptakan-NYA
- Sebagai bekal penting untuk menjajaki lingkungan hidup bermasyarakat yang beragam
- Memiliki penglihatan atas pemikiran yang jelas dan mendasar serta menjaga rasa saling toleransi antar budaya masing - masing.
- Turut mengembangkan budaya bangsa yang sudah turun - temurun dari nenek moyang dan melestarikannya supaya nilai - nilai tersebut tidak hilang.
PENDAHULUAN
Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula
hubungan dan interaksi yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan
tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dan kelompok
manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam,
dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan
seimbang dan harmonis. Selain itu manusia juga diciptakan dengan sesempurna
penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki. Hal ini difirmankan dalam
surat At-Tin: 4
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”.
Pada potongan ayat tersebut Allah berfirman bahwa Dia
telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik dibanding
makhluk-makhluk yang Ia ciptakan berupa binatang, malaikat, dan jin dan manusia
adalah bentuk yang paling sempurna. Kepada manusia diberikan-Nya akal pikiran dan
kepintaran dalam menyerap ilmu pengetahuan sehingga dapat berkreasi dan sanggup
berinovasi menciptakan penemuan-penemuan untuk menguasai alam dan binatang.
Manusia juga bersosialisasi dengan lingkungan, yang
merupakan pendidikan awal pada suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan
manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan asas ketuhanan.
Karena dengan ilmu tersebut manusia
dapat membedakan antara yang hak dengan kewajiban, hal-hal yang baik dengan
yang buruk, jahat dan baik. Sehingga nilai dan norma-norma dalam lingkungan akan
terjalin seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik
hasil dari pendidikan yakni kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dapat
diimplementasikan di lingkungan masyarakat.
Pendidikan sebagai manusia sebagai manusia seutuhnya. Manusia merupakan makhluk
yang berakal budi lebih dari sekadar binatang yang hanya memiliki insting, serta berpikir secara rasional yang diterima akal sehat manusia. Manusia
memiliki akal pikiran yang berfungsi mengendalikan diri dari naluri hewani.
Masyarakat yang berpendidikan adalah masyarakat yang berbudaya. Dalam berbudaya
manusia memiliki ketertarikan akan keindahan. Secara sederhana, kesenian adalah
bentuk kebudayaan yang bisa dilihat dengan kasat mata. Norma, etika, dan nilai
sosial adalah kebudayaan yang menjadi spirit di masyarakat.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas
manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan , lingkungan dan
manusia berbudaya dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang
tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil
dari pendidikan suatu bangsa.
Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia juga sesuai dengan program pendidikan di Perguruan Tinggi dalam rangka menyempurkan pembentukan sarjana.
Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas:
1. Kemampuan akademis : kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sitematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternative pemecahannya
2. Kemampuan professional : kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
3. Kemampuan personal : kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
Dengan seperangkat kemampuan yang dimilikinya lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadai sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang ditekuninya serta mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat
Indonesia dan umat manusia pada umumnya.
Latar belakang diberikannya IBD selain melihat konteks budaya Indonesia juga sesuai dengan program pendidikan di Perguruan Tinggi dalam rangka menyempurkan pembentukan sarjana.
Pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan yang terdiri atas:
1. Kemampuan akademis : kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, maupun berpikir logis, kritis, sitematis, dan analitis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi, serta mampu menawarkan alternative pemecahannya
2. Kemampuan professional : kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengan kemampuan ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
3. Kemampuan personal : kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap, dan tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan, serta memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
Dengan seperangkat kemampuan yang dimilikinya lulusan perguruan tinggi diharapkan menjadai sarjana yang cakap, ahli dalam bidang yang ditekuninya serta mau dan mampu mengabdikan keahliannya untuk kepentingan masyarakat
Indonesia dan umat manusia pada umumnya.
PEMBAHASAN
HAKEKAT
MANUSIA DAN BUDAYA
A. Pengertian Manusia
Istilah manusia berasal dari kata “manu”
(Sansekerta), “mens” (Latin), yang artinya berpikir, berakal budi atau makhluk yang
berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Bisa juga didefinisikan bahwa manusia
adalah sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah
kelompok (genus) atau seorang individu.
Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia
merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan,
setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan genetika/ tradisi,
lingkungan geografik/ fisik/ sosial, maupun sejarahnya. Seperti seorang bayi
lahir, ia merasakan ada perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh karena
itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu
tergantikan. Dari sanalah timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia
dianugerahi kepekaan (sense), untuk membedakan (sense of discrimination), dan
keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk
memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan.Oleh karena itu lingkungan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap manusia itu sendiri.
Siklus
Hubungan Manusia
Siklus Hubungan manusia menggambarkan bahwa antara lingkungan
dan manusia maupun sebaliknya merupakan hal yang tidak terpisahkan sebagai suatu
sistem, yang dapat uraikan mejadi:
- Lingkungan alam befungsi
sebagai sumber daya alam
- Lingkungan manusia
berfungsi sebagai sumber daya manusia
- Lingkungan buatan
berfungsi sebagai sumber daya buatan(campuran SDA dan SDM)
B.
Pengertian Budaya
Kata budaya merupakan bentuk majemuk dari kata budidaya
yang artinya cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai
sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta "budhayah"
yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dalam Bahasa Belanda
budaya atau kebudayaan adalah kata "culturur". Dalam bahasa Inggris disebut
"culture". Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata "colera".
Colera yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan .
Kemudian pengertian ini berkembang luas menjadi arti culture, yaitu sebagai
segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah lingkungan alam.
Definisi budaya dalam pandangan ahli antropologi
sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli
antropologi merumuskan definisi budaya sebagai berikut:
Menurut E.B. Taylor: 1871 berpendapat bahwa budaya adalah:
Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni,
kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang
dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Linton: 1940, mengartikan budaya dengan:
Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan
yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.
Menurut Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa
budaya adalah: Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang
eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu,
sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia
Menurut Koentjaraningrat: 1979 yang
mengatikan budaya dengan: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar.
Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat
dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia
yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan
bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.Dari penjelasan tersebut
diatas jelas di sebutakan bahwa terdapat hubungan yang erat serta kesailng
ketergantungan antara pendidikan dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui
proses belajar yang merupakan kegiatan inti dalam dunia pendidikan.
Terdapat tiga wujud
kebudayaan yaitu :
1. Wujud pikiran yang
berupa gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama
dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam benak pikiran masing-masing
anggota masyarakat di tempat lingkungan kebudayaan tersebut,
2. Aktifitas tingkah
laku pola manusia dalam bermasyarakat. Sistem sosial terdiri dari
aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi satu sama lain, bergaul
satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu
berdasarkan adat istiadat setempat. Sistem sosial ini bersifat nyata atau
konkret,
3. Wujud fisik,
merupakan seluruh total hasil fisik yang bisa di lihat kasat mata dari
aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat serta lingkungan.
BUDAYA
SEBAGAI SISTEM GAGASAN
Budaya sebagai sistem gagasan yang bersifat abstrak,
tak dapat diraba atau di lihat, karena berada di dalam alam pikiran atau
perkataan seseorang. Terkecuali bila gagasan itu berupa tulisan yang dituliskan
dalam undang-undang , buku atau kitap. Budaya sebagai sistem gagasan telah menjadi
pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku sesuai nilai, norma yang
berlaku. Seperti yang dikatakan
Kluckhohn dan Kelly bahwa “Budaya berupa rancangan hidup” maka budaya terdahulu
itu merupakan gagasan prima yang kita warisi melalui proses belajar dan menjadi
sikap prilaku manusia berikutnya yang kita sebut sebagai nilai budaya.
Jadi, nilai budaya adalah “gagasan” yang menjadi
sumber sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial budaya. Nilai
budaya dapat kita lihat, kita rasakan dalam sistem kemasyarakatan atau sistem
kekerabatan yang diwujudkan dalam bentuk adat istiadat. Hal ini akan lebih
nyata kita lihat dalam hubungan antara manusia sebagai individu lainnya maupun
dengan kelompok dan lingkungannya.
PERWUJUDAN
KEBUDAYAAN
Menurut JJ. Hogman dalam bukunya “The World of Man” budaya
terbagi dalam tiga wujud yaitu: ideas,
activities, dan artifacts. Sedangkan Koencaraningrat dalam buku “Pengantar
Antropologi” menggolongkan wujud budaya menjadi:
a. Sebagai suatu
kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan
sebagainya.
b. Sebagai suatu
kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
c. Sebagai benda-benda
hasil karya manusia
Berdasarkan penggolongan wujud budaya di atas kita
dapat mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: Budaya yang bersifat abstrak
dan budaya yang bersifat konkret.
Budaya yang Bersifat
Abstrak.
Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di
dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat
abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yang menjadi
cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi
kesepakatan.
Budaya
yang Bersifat konkret
Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari
tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat
diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koencaraningrat menyebutkan
sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku,
bahasa dan materi.
a. Perilaku
Perilaku adalah cara
bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia
dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior)
masyarakatnya.
b. Bahasa
Bahasa adalah sebuah
sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan
telinga (auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting
dalam memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini
adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat berpikir dan
berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan
ada.
c. Materi
Budaya materi adalah
hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian,
perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat
transportasi.
Unsur-unsur materi
dalam budaya dapat diklasifikasikan dari yang kecil hingga ke yang besar adalah
sebagai berikut:
1. Items, adalah unsur
yang paling kecil dalam budaya.
2. Trait, merupakan
gabungan dari beberapa unsur terkecil
3. Kompleks budaya,
gabungan dari beberapa items dan trait
4. Aktivitas budaya,
merupakan gabungan dari beberapa kompleks budaya.
Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan
unsur-unsur budaya menyeluruh (culture universal). Terjadinya unsur-unsur
budaya tersebut dapat melalui discovery (penemuan atau usaha yang disengaja
untuk menemukan hal-hal baru).
(SUBSTANSI)
UTAMA BUDAYA
Substansi utama budaya
adalah sistem pengetahuan, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos
kebudayaan. Tiga unsur yang terpenting adalah sistem pengetahuan, nilai, dan
pandangan hidup.
1. Sistem Pengetahuan
Para ahli menyadari
bahwa masing-masing suku bangsa di dunia memiliki sistem pengetahuan tentang:
-Alam sekitar
-Alam flora dan fauna
-Zat-zat
-Manusia
Sifat-sifat dan tingkah
laku sesama manusia
Ruang dan waktu.
Unsur-usur dalam
pengetahuan inilah yang sebenarnya menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan
di seluruh dunia.
2. Nilai
Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusia
untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan
pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menentukan
sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius
atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan karsa manusia. Sesuatu
dikatakan mempunyai nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah
(nilai estetis), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama). Prof.
Dr. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga bagian yaitu:
- Nilai material, yaitu
segala sesuatu (materi) yang berguna bagi manusia.
- Nilai vital, yaitu
segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan
aktivitas
- Nilai kerohanian,
yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi rohani manusia.
3. Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang dianut
oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu, kelompok atau
suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang
dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan
tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.
MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa manusia sebagai
makhluk yang paling sempurna bila dibanding dengan makhluk lainnya, mempunyai
kewajiban dan tanggung jawab untuk mengelola bumi. Karena manusia diciptakan
untuk menjadi khalifah/Pemimpin, sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah:
30
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Oleh karena itu manusia harus menguasai segala
sesuatu yang berhubungan dengan kekhalifahannya disamping tanggung jawab dan
etika moral harus dimiliki. Masalah moral adalah yang terpenting, karena
sebagaimana Syauqi Bey katakan:
Akhlak dalam syair di atas menjadi penyebab punahnya
suatu bangsa, dikarenakan jika akhlak suatu bangsa sudah terabaikan, maka
peradaban dan budaya bangsa tersebut akan hancur dengan sendirinya. Oleh karena
itu untuk menjadi manusia yang berbudaya, harus memiliki ilmu pengetahuan,
tekhnologi, budaya dan industrialisasi serta akhlak yang tinggi (tata nilai
budaya) sebagai suatu kesinambungan yang saling bersinergi, sebagaimana
dilukiskan dalam bagan berikut:
Hommes mengemukakan bahwa, informasi IPTEK yang
bersumber dari sesuatu masyarakat lain tak dapat lepas dari landasan budaya
masyarakat yang membentuk informasi tersebut. Karenanya di tiap informasi IPTEK
selalu terkandung isyarat-isyarat budaya masyarakat asalnya. Selanjutnya
dikemukakan juga bahwa, karena perbedaan-perbedaan tata nilai budaya dari
masyarakat pengguna dan masyarakat asal teknologinya, isyarat-isyarat tersebut
dapat diartikan lain oleh masyarakat penerimanya.
Disinilah peran manusia sebagai makhluk yang diberi
kelebihan dalam segala hal, untuk dapat memanfaatkan segala fasilitas yang
disediakan oleh Allah SWT melalui alam ini. Sehingga dengan alam tersebut
manusia dapat membentuk suatu kebudayaan yang bermartabat dan bernilai tinggi.
Namun perlu digarisbawahi bahwa setiap kebudayaan akan bernilai tatkala manusia
sebagai masyarakat mampu melaksanakan norma-norma yang ada sesuai dengan tata
aturan agama.
SUMBER
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://www.anneahira.com/ilmu/ilmu-budaya-dasar.htm
http://anovianto.wordpress.com/2010/02/23/makalah-ilmu-budaya-dasar/
http://www.anneahira.com/ilmu/ilmu-budaya-dasar.htm
http://anovianto.wordpress.com/2010/02/23/makalah-ilmu-budaya-dasar/